Readers

Dua Garis Biru (2019): Dua Garis Antara Romansa Remaja dan Realita

sumber: instagram.com/duagarisbirufilm

Bima dan Dara adalah cerita yang pernah kita tahu, lihat atau sesekali dengar selintas lewat teman atau berita koran. Dua remaja polos yang saling merayakan cinta, mengira dunia hanya milik berdua. Seperti umumnya remaja yang dibesarkan dalam lingkungan pasif yang menganggap pendidikan seks adalah hal tabu, keduanya menjadi satu kasus yang tidak beruntung. Lalu mulailah semua runyam. Dua keluarga yang digambarkan begitu kontras terpaksa harus saling melebur, sementara Bima dan Dara harus mengorbankan banyak hal demi kesalahan mereka.


Dua Garis Biru dibuka dengan nuansa remaja yang ceria, pelan-pelan mengkhawatirkan sampai dengan lancar menuju ke satu titik yang amat emosional: sebuah one take panjang yang mengundang haru saat dua keluarga yang saling berbeda kelas itu bertikai besar. Penonton diposisikan ada di dalam ruangan, dengan keluwesan kamera mengikuti emosi yang berantakan dari setiap karakter (Kudos berlebih untuk Cut Mini dan Lulu Tobing). Sekuens ini terasa menyesakkan dan setiap kekacauan yang ada di dalamnya terasa nyata, sehingga para karakter pun terasa mengikat, dalam hal ini kekecewaan para orangtua.

Selanjutnya film bergulir tentang perjalanan Dara selama mengandung, putusan-putusan ia dan Bima yang labil, sekaligus gambaran ironis bagaimana kesalahan kecil yang terjadi akibat sebuah ketidaktahuan merusak hampir segala rencana dan masa depan.

Tidak semua pembuat film mampu jeli bercerita lewat gambar, dapat menyampaikan kesan dan pesan lewat detail shot-shot yang sederhana tanpa terlihat hanya ingin mengandalkan estetika. Disini kerja Padri Nadeak amat membantu menyempurnakan arahan Gina S. Noer. Lihat bagaimana nuansa pinggiran Jakarta dan jalan jalan tikus terasa hidup, kamar sempit Bima yang bercampur bisingnya musik dangdut atau suara percakapan tetangga, bagaimana kemudian kamar nyaman Dara menandakan status sosial yang lebih tinggi, juga close up shot sepasang mata yang menggambarkan keraguan akan keputusan para karakter utama.


Gina yang sebelumnya dikenal menjadi penulis banyak film sukses terakhir menjadi penulis Posesif, film yang mengangkat kenaifan remaja serupa. Nampaknya lewat film Edwin itu pula lah,  ia pintar mencuri ilmu  tentang makna gambar dan simbolisme.

Sulit juga untuk menafikan penulisan ceritanya yang kuat, dimana setiap warna karakter terasa mudah dipercaya, dari mulai Dara yang cerdas dan punya rancangan masa depan lebih panjang, Bima yang sebaliknya; terbatas dan tanpa punya rencana. Bahkan penokohan keluarga Bima dan Dara pun tak berlebihan (orangtua relijius konservatif versus milenial modern), selayaknya karakter karakter yang ada di keseharian.

Gina juga tidak terjebak untuk membuat filmnya menjadi amat dramatis sampai memusingkan. Beberapa komedi dan kemanisan romansa remaja tetap lahir dengan lancar, tanpa merusak jalinan cerita atau dinamika kimia dua tokoh utama. Dalam proses kehamilan, kita masih melihat Dara dan Bima sebagai dua remaja yang bermain-main dengan dunia kecil mereka. Di titik lain, sulit untuk tidak tersenyum melihat momen kekeluargaan antara dua keluarga di paruh terakhir film, setelah perselisihan yang silih berganti sebelumnya. 

Pada akhirnya, Dua Garis Biru menyimpan beragam kesan yang tersimpan rapi di dalam kotak pesan penting bernama pendidikan seks. Ini adalah pekerjaan setiap orangtua untuk sadar bahwa mempunyai anak tidak pernah mudah, apalagi merawatnya.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan seperti apa nasib akan membawa Bima dan Dara di masa depan. Tebakan saya, tentu mereka tidak akan bersatu. Mereka akan bertemu orang-orang baru, menjadi dewasa dan tidak habis pikir kenapa bisa bermimpi muluk berdua di masa lalu. Seseorang dari mereka akan lebih banyak meluangkan waktu untuk Adam atau mereka akan bergantian merawat. Entahlah. Film ini merekam keluguan mereka dengan sederhana, bahkan pelukan terakhir di depan rumah sakit terasa manis sekaligus pahit; sebuah makna akan cinta remaja yang naif dan perpisahannya. 

Dua Garis Biru adalah film yang bagus dan amat sayang untuk dilewatkan. 

Dua Garis Biru, 2019
Sutradara : Gina S. Noer
Penulis : Gina S. Noer
Pemain : Angga Yunanda, Adhisty Zara, Cut Mini, Lulu Tobing, Dwi Sasono




Comments

  1. Aku setuju ketika Maudy bilang: "...lewat film Edwin itu pula lah, ia pintar mencuri ilmu tentang makna gambar dan simbolisme". Tapi, menurutku, hal itu lebih ke pilihan presentasi visualnya sih. Karena simbolisme yang ada di Posesif sendiri, rasanya juga andil Gina.

    Tapi, emang cukup mengejutkan lho Gina berani bermain-main dengan visual untuk kisah yang, sebenarnya, sudah cukup powerful tanpa imagery-imagery tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru baca ini. Iya, debut pula. Bagus banget. Bakal nunggu apapun yang dia buat selanjutnya sih

      Delete
  2. menarik, jadi pengen nonton filemnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayanya masih main di beberapa studio, ayo ditonton!

      Delete

Post a Comment

Popular Posts