Deadpool 2 (2018) : Saat Keunikan Tidak Lagi Unik



Beritahu sebuah joke baru, maka kali pertama kita akan tertawa. Tapi ulangi lagi joke tersebut, tawa kita tidak terasa selancar di awal. Tidak bisa dibayangkan apabila joke itu dikelola selama bertahun-tahun, membuahkan sebuah franchise. Hasilnya bukan saja membosankan tapi buruk sekali. Lihat saja bagaimana Scream melakukannya. Sebagai meta-horor yang paling populer pada jamannya, sebuah ide seru dimana semua karakter dengan sadar menyadari mereka berada di dalam film horor. Scream 2, seperti mengikuti apa yang dijelaskan oleh salah satu karakternya yang moviebuff, Randy adalah “sekuel yang berusaha menjadi lebih dari versi originalnya maka akan lebih banyak darah, kesadisan dan korban”, saya tidak menyukainya tapi setidaknya film ini jauh dari kata menyebalkan. Sampai datanglah Scream 3. Apalagi Scream 4. Keunikan menjadi meta-horor itu menjadi tidak punya artinya lagi, yang ada hanyalah pengulangan yang terasa amat putus asa.


Dengan kecemasan yang sama, saya menonton Deadpool 2. Sesuai peraturan yang diucapkan Randy, sekuel kali ini berusaha menjadi yang lebih melampaui versi originalnya. Maka hasilnya adalah lebih ramai, lebih berdarah-darah, lebih banyak adegan aksi, lebih dramatis, lebih lucu, lebih mengesankan. Oh, saya melupakan dua kata di depan kalimat tadi yaitu : terlalu berusaha menjadi lebih ramai, lebih berdarah-darah, lebih banyak adegan aksi, lebih dramatis, lebih lucu, lebih mengesankan. Kenapa begitu?

Wade Wilson atau Deadpool (Ryan Reynolds) membuka cerita langsung dengan lelucon tentang Wolverine lalu dengan cepat meledakkan dirinya sendiri. Sebuah pembuka yang mengocok perut memang, tapi yang tidak terduga, latar belakang aksinya adalah sebuah adegan sentimentil dimana istri Wade (Morena Baccarin) tertembak secara tidak sengaja saat kawanan penjahat membalas dendam padanya. Apakah kematian istri Wade adalah babak baru untuk pengembangan cerita dan karakter Deadpool? Tak sepenuhnya benar, karena kita langsung disajikan banyak lelucon lagi begitu Wade memasuki masa-masa galau mengenang sang istri juga saat membantu tim X-men menolong seorang remaja labil berkekuatan super, Firefist. Diperkenalkan juga Cable, sosok musuh dari masa depan yang datang dengan satu tujuan untuk menyelamatkan keluarganya dengan membunuh Firefist. Keluarga memang hal yang ingin diperlihatkan oleh film ini sampai Deadpool sendiri meyakini bahwa sekuel ini adalah film tentang keluarga. Saya tak akan menyela, karena mungkin di benak pahlawan yang memberontak pada pakem superhero kebanyakan inilah keluarga : kehangatan hati dalam humor nyeleneh dan adegan aksi penuh darah. The Killing of Sacred Deer atau Dogtooth juga berhak bila melabeli diri sebagai film keluarga, tergantung bagaimana anda mendefinisikan seperti apa itu keluarga.

Namun masalah saya yang sesungguhnya pada Deadpool 2 adalah tentang keberulangan yang membosankan. Seperti yang kita tahu, Deadpool pertama hadir sebagai penyegaran di saat semua film-film superhero menjadi sangat serius (DC) atau serius-serius santai (Marvel). Deadpool yang bawel mengomentari banyak hal dengan referensi pop culture atau menyindir teman sesama superhero-nya datang sebagai pembeda, yang tentu saja membuat ceritanya menjadi hiburan yang menyenangkan hati. Seakan tidak cukup memberontak, ia memakai metode fourth wall yaitu berinteraksi pada pihak penonton, juga menyelipkan banyak adegan aksi penuh darah dan kesadisan. Adegan membunuh sambil berhitung jumlah peluru adalah favorit saya di film pertama.


Namun, dalam seri kedua, tidak banyak yang bisa ditunggu. Segala hal yang diperbanyak dosisnya oleh sang sutradara, David Leitch (sosok dibalik film John Wick) menjadikannya tidak lebih menarik dari film-film komedi Hollywood kebanyakan. Sebenarnya sejak film pertama, saya sadar betul bahwa Deadpool punya kecenderungan menjadi seseorang yang mengejek keklisean namun di sisi lain, juga mengimani keklisean yang sama. Ini hal yang juga terjadi di Scream saat misalnya, tokoh Neve Campbell berujar bahwa hanya orang bodoh yang lari ke tangga saat dikejar pembunuh padahal seharusnya ia lari keluar rumah. Namun ujungnya, ia melakukan juga. Deadpool persis seperti itu. Keunikan yang tidak menjadi begitu unik lagi. Saya dapat mentolerirnya dalam film pertama tapi kali ini, mungkin saya hanya jengah. Atau bisa jadi dari awal, saya datang dengan niatan yang salah yaitu ingin melihat sesuatu yang berbeda dari Deadpool. Faktanya, tidak ada yang begitu berbeda. Mungkin resepnya hanya tertawakan saja, nikmati saja. Seperti kata teman saya yang merasa terhibur dan mengeluh kenapa saya malah terbebani. Mungkin anda akan senang, namun ini kemalangan saya pulang dengan hati yang kosong.

Deadpool 2, 2018

Sutradara : David Leitch
Pemain : Ryan Reynolds, Josh Brolin, Zazie Beets, Morena Baccarin
Penulis : Rhett Reese, Paul Wernick, Ryan Reynolds

Masih tayang di bioskop.





Post a Comment

4 Comments

  1. Meski sudah sangat telat, aku cuman mau bilang..... Dengan berat hati ku katakan deadpool 2 cukup membosankan.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete