One Fine Day (2017) : Jefri Nichol, Jefri Nichol, Jefri Nichol

sumber : youtube Screenplay films.



This is positive-thinking review. 


Ini bukan filmnya Michelle Pfeiffer dan George Clooney. Tapi Michelle Ziudith dan Jefri Nichol.

Semenjak kesuksesan tidak terduga Magic Hour, Screenplay dengan produktif membuat film-film bertema cinta remaja yang semuanya memasang wajah Michelle Ziudith. Michelle Ziudith manis. Saya melihat aura Acha Septriasa ketika ia masih sangat belia bersama Irwansyah dulu. Ketika pertama kali melihatnya adalah di sinetron Love In Paris tapi pesona bintangnya kurang terpancarkan. Lalu kemudian ia muncul dalam Magic Hour. Sayangnya, di film itu ada Nadya Arina sehingga ia kalah dalam hal mencuri perhatian. Saya juga benci dengan twist film itu karena rasanya melecehkan kemampuan otak yang melihatnya. Mungkin juga karena kombinasi Dimas Anggara dan Rizky Nazar kurang mampu memberikan kekuatan untuk menyelesaikan filmnya sampai selesai. Sehingga kalau Magic Hour diulang di televisi, saya kurang semangat menontonnya.

Lalu datanglah London Love Story, film dengan trailer yang sangat penuh nuansa melodramatis  sempurna untuk menjaring pasar anak SMP dan SMA. Saya teringat film ini keluar bersamaan dengan film Garin Nugroho yang Aach Aku Jatuh Cinta. Saya terus mengulang-ulang trailernya ketika filmnya rilis. Lagu Percayalah - Raisa terasa pas mengiringinya. Saya tidak bisa lupa dengan kutipan-kutipannya semacam “Aku harap aku gak pernah ketemu sama kamu”, “Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah supaya kita ketemu sama orang yang benar” dan sebagainya. Disinilah Ziudith menguasai filmnya. Akhirnya peranan karakter yang ceria, kekanak-kanakan dan energik menjadi ciri khasnya. Sebenarnya tidak berbeda dengan Rain, juga sebenarnya dengan Aletta di ILY ft 38000 ft. Suara yang lembut dan manja, akting menangis dan marah-marah. Saya mulai terbiasa karena London Love Story. Di ILY, jujur saya suka 30 menit pertamanya. Ziudith seperti gadis di template film romcom yang digambarkan kikuk dan enerjik sementara Rizky Nazar jadi karakter yang dingin dan kaku. Sayangnya semua berubah dan twist filmnya hampir menyamai kemunduran Magic Hour. Ibu saya saja sampai mengomel berulang kali. Tapi ILY tetap betah saya tonton setiap mampir di televisi. Twist paling saya benci untuk film Screenplay masih dipegang Magic Hour.

Dan kini adalah One Fine Day. Jefri Nichol yang sedang bersinar menjadi lawan main terbaru Ziudith. Ada beberapa hal yang baru dari Screenplay Universe sebelumnya. Musik diganti dengan nuansa Lambada, menambahkan suasana pantai di Barcelona dan kabarnya Ziudith disini mendapat karakter baru : lebih dewasa, lebih seksi, lebih elegan. Trailernya juga lebih vulgar…. untuk standar anak 11 tahun. Ada penyisipan Amanda Rawles (karena ia melejit bersama Nichol lewat Dear Nathan), adegan Nichol mencuri ciuman dari Ziudith, Ziudith berlenggak-lenggok untuk menunjukkan persona barunya, plot ala gangster. Berpadu dengan itu, sisanya masih hal-hal lama : tangisan melodramatis Ziudith dan kutipan memorable penuh nada emosi (Segitu putus asanya kamu karena kamu gak pernah memiliki cinta yang sesungguhnya!”). Cukup menarik.

Tapi apakah semua yang dijual di trailer mampu dibuktikan?

Sayangnya, hal-hal baru yang dijanjikan hanya sekedar tempelan dan tidak konsisten. Contoh cepatnya adalah Alana, peranan Ziudith yang katanya akan benar-benar berbeda dari stereotype-nya yang biasa muncul. Lima belas menit pertama, sepertinya ada harapan kesana. Bahkan saya sempat terkejut melihat transformasi Ziudith yang biasanya bergaya mahasiswi kuliahan dengan kesan cute sekarang memakai kemeja gombrong yang dalam tradisi di film-film biasanya dipakai oleh karakter simpanan om-om atau wanita dewasa kantoran yang habis bercinta dengan klien. Ada juga saat Ziudith memakai baju yang memperlihatkan perutnya, mini dress dan sebagainya. Diselipkan pula adegan habis mandi di bath tub yang mungkin secara logika tidak terlalu penting namun disisipkan untuk memperlihatkan bahwa Ziudith sudah menjauhi kesan sweet girl-nya. 15 menit ini membuat saya ingin berasumsi bahwa One Fine Day bisa jadi pembuktian Ziudith selanjutnya.

Sayangnya, harapan dalam 15 menit tersebut mendadak musnah.

Ketika Alana melewatkan hari bersama Mahesa, Ziudith kembali ke asal muasalnya : gadis yang polos dan imut. Mungkin memang inilah yang paling dikuasai olehnya. Atau bisa jadi aslinya, Ziudith memang seperti itu. Karakter yang dijanjikan lebih dewasa dan classy terhapus sama sekali. Seperti pada film-film sebelumnya, ia juga kembali menangis. Namun mungkin disinilah puncaknya : Ziudith menangis dengan segenap emosi jiwa lengkap dengan variasi tertawa dalam tangisan---- mengingatkan kita semua akan gaya menangis Acha di Love is Cinta. Dia totalitas sekali disini. Memang seringkali masih terlihat mentah. Tapi ada kepolosan yang menghibur di beberapa adegan seperti ketika Alana meludahi dress pemberian sang pacar. Mengusapkan bawang ke ketiaknya. Atau saat ia tidak mau bergerak kecuali disentuh Mahesa.

Hal-hal lainnya juga terus membuat saya berpikir positif. Seperti bagaimana Asep Kusdinar menyelipkan momen Alana dan Mahesa bergandengan tangan, berenang bersama di pantai atau terpeleset lalu mereka saling berhadap-hadapan seperti di dalam momen manga. Anak 11 tahun dalam jiwa saya menikmati itu semua. Cheesy memang. Tapi kan kita sudah tahu hal seperti apa yang akan kita tonton.

Yang paling pasti, keinginan untuk tidak mengeluh, meringis atau walk out hadir karena sosok Jefri Nichol. Subhanallah, subhanallah, subhanallah. Bila karakter Alana tidak konsisten, karakter Mahesa yang playful dan santai tetap stabil sampai akhir cerita (kecuali dalam hal berdialog, dan itu tuntutan scenario jadi saya maklumi).

Tapi melihat kejanggalan atau momen menyebalkan macam apapun rasanya tidak mengapa begitu melihat pemandangan Jefri tersenyum atau tertawa di sepanjang film ini.  Pemandangan indah yang hanya separuh ketampanan Nabi Yusuf ini sudah mampu membuat saya lupa dengan segala kecacatan filmnya. Ketika Rizky Nazar atau Dimas Anggara melakukan hal yang sama seperti berlagak cool atau tertawa, saya tidak bisa disogok. Disini Jefri Nichol telanjang dada sambil berkilang minyak, menjilat dua scoop es krim sekaligus, mengucapkan “Lo gak tau aja apa yang udah terjadi antara gue sama Alana”, ditampar Ziudith, dipukuli babak belur, meludahi Spaghetti-nya Maxime Bouttier, menjadi copet, ya Allah, I'm sold.  Mungkin inilah yang namanya daya tarik. Rasa-rasanya saya jatuh cinta. Jefri lah penyelamat utama film ini dari  kekesalan dan kebosanan.

Kalaupun ada poin-poin positif lain : saya suka Amanda Rawles memakai atasan putih tanpa lengan. Kulitnya yang agak cokelat terlihat bersinar dan aura eksotisnya terlihat.  Ia mirip sekali dengan aktris panas asal Filipina yang suka saya tonton filmnya tengah malam. Walau hanya sebentar, ternyata dia memiliki magnet yang kuat yang mungkin saja dengan mudah dapat mengalahkan pesona Ziudith. Maxime Bouttier pun membawakan karakter posesif dengan tidak mengganggu. Sebenarnya wajahnya rupawan lengkap dengan lesung pipit yang menggoda tapi sayang Jefri is definitely steal his thunder. Tidak apa-apa, tetap tampan yang kedua.

Tulisan saya tentang One Fine Day ini memang agak berbeda dengan bagaimana cara saya menulis resensi sebelumnya. Tapi mau bagaimana lagi, pikiran saya hanya dipengaruhi oleh Mahesa dan passionnya dalam bermusik. Bahkan sampai saya mengetik ini, senyuman Mahesa membuat saya amnesia untuk bisa menulis kelemahan-kelemahan filmnya secara sadis dan gamblang. Benar kata bos saya. Hal negatif bila dibalas dengan perasaan positif maka hasilnya juga akan positif.

Intinya, tontonlah film ini seperti bagaimana kamu membaca teenlit keluaran Gramedia saat SMP dulu. Teenlit-teenlit dengan bahasa non-formal yang tidak beraturan, yang plotnya hanya tentang bisa pacaran dengan cowok impian lalu diselipkan twist yang tidak diduga-duga. Maka menontonnya dengan logika sempurna orang yang sudah bisa kerja dan cari duit hanya akan menguras tenaga.  Kadang-kadang hal yang paling konyol dan bodoh pernah kita lakukan dan sukai, hanya perlu mengakui saja.

Di atas semua itu, memasang Jefri Nichol adalah hal terbaik yang paling logis yang dilakukan pembuatnya.


One Fine Day, 2017
Sutradara : Asep Kusdinar
Pemain : Michelle Ziudith, Jefri Nichol, Maxime Bouttier, Surya Saputra, Amanda Rawles
Penulis : Tisa TS

Masih tayang di bioskop.


Post a Comment

0 Comments